Perhutani KPH Kedu Utara Tingkatkan Keselamatan Pendaki dan Pengelolaan Sampah di Jalur Gunung Sumbing via Bowongso

KEDU UTARA, WONOSOBO (31/05/2026) | Perhutani Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Kedu Utara bersama Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) Rahayu Resort Pemangkuan Hutan (RPH) Anggrunggondok melaksanakan koordinasi dengan pengelola Basecamp Pendakian Gunung Sumbing via Bowongso yang dikenal dengan nama Basecamp Djoegil Awar-Awar. Kegiatan tersebut dilakukan sebagai upaya memperkuat pengelolaan pendakian menjelang masa libur panjang (long weekend) yang diperkirakan akan meningkatkan jumlah kunjungan pendaki ke kawasan Gunung Sumbing, Sabtu (30/05).

Koordinasi yang berlangsung di area basecamp tersebut membahas berbagai aspek penting dalam pengelolaan wisata pendakian, antara lain keamanan dan keselamatan pengunjung, pengelolaan sampah, keamanan jalur pendakian, pemantauan kuota pendaki, serta langkah antisipasi terhadap fenomena pendaki musiman atau yang dikenal dengan istilah “pendaki fomo” (fear of missing out).

Perhutani menilai bahwa meningkatnya popularitas pendakian gunung melalui media sosial berpotensi mendorong bertambahnya jumlah pendaki pemula yang belum memiliki kesiapan fisik maupun pengetahuan yang memadai terkait keselamatan di alam terbuka. Oleh karena itu, diperlukan sinergi antara Perhutani, LMDH, dan pengelola basecamp agar kegiatan wisata alam tetap berjalan aman, tertib, dan berkelanjutan.

Selain membahas aspek keselamatan, pengelolaan sampah juga menjadi perhatian utama. Pengelola basecamp bersama Perhutani berkomitmen untuk terus mengedukasi pendaki agar menerapkan prinsip membawa kembali sampah yang dihasilkan selama pendakian. Langkah tersebut dinilai penting untuk menjaga kebersihan dan kelestarian ekosistem hutan yang menjadi jalur pendakian menuju puncak Gunung Sumbing.

Administratur KPH Kedu Utara melalui Kepala BKPH Wonosobo, Naufal Rafif, menyampaikan bahwa koordinasi dan komunikasi yang baik dengan seluruh pemangku kepentingan merupakan kunci keberhasilan pengelolaan wisata alam berbasis kelestarian hutan.

“Perhutani mendukung pengembangan wisata pendakian yang memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat sekitar hutan. Namun demikian, aspek keselamatan pendaki, kelestarian lingkungan, serta kepatuhan terhadap kuota dan aturan pendakian harus menjadi prioritas bersama. Melalui koordinasi ini, Perhutani berharap seluruh pihak dapat bersinergi dalam memberikan pelayanan terbaik kepada para pendaki sekaligus menjaga kelestarian kawasan hutan Gunung Sumbing,” ujarnya.

Ia juga menambahkan bahwa pengawasan terhadap kuota pendaki perlu dilakukan secara konsisten guna menghindari penumpukan pengunjung yang dapat berdampak pada kenyamanan, keselamatan, maupun kondisi lingkungan jalur pendakian.

Sementara itu, Ketua Basecamp Djoegil Awar-Awar, Yunaeri, menyampaikan apresiasi atas dukungan dan pendampingan yang diberikan Perhutani serta LMDH dalam pengelolaan jalur pendakian via Bowongso.

“Kami berterima kasih atas koordinasi dan perhatian dari Perhutani bersama LMDH. Menjelang libur panjang, kami akan memperketat pengawasan administrasi pendakian, memastikan kuota pendaki sesuai ketentuan, serta terus mengingatkan pendaki untuk menjaga kebersihan dan mematuhi prosedur keselamatan. Harapannya, seluruh pendaki dapat menikmati keindahan Gunung Sumbing dengan aman dan tetap ikut menjaga kelestarian alam,” ungkapnya.

Melalui kegiatan koordinasi tersebut, Perhutani berharap pengelolaan wisata pendakian Gunung Sumbing via Bowongso dapat terus berjalan secara profesional, aman, dan berwawasan lingkungan sehingga mampu memberikan manfaat bagi masyarakat sekitar hutan sekaligus mendukung upaya pelestarian sumber daya hutan secara berkelanjutan. (Kdu/Nurul)

Editor: Diono

Copyright © 2026

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *