BANYUMAS TIMUR (20/08/2026) | Perum Perhutani Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Banyumas Timur terus memperhatikan setiap tahapan produksi getah pinus, mulai dari pohon hingga tempat penerimaan. Jumlah getah yang dihasilkan pohon tidak selalu sama dengan jumlah yang akhirnya sampai di timbangan. Di antara keduanya terdapat sejumlah proses yang perlu dikelola secara cermat untuk menjaga hasil tetap optimal.
Administratur KPH Banyumas Timur melalui Kepala Bagian Kesatuan Pemangkuan Hutan (BKPH) Gunung Slamet Timur Bambang Sutanto mengatakan bahwa potensi susut perlu dipahami sebagai bagian dari perjalanan hasil sadapan. Perhatian tidak cukup diberikan pada proses keluarnya getah dari batang, tetapi juga pada penanganan setelah getah tertampung.
“Getah harus dijaga sejak keluar dari pohon sampai diterima dan ditimbang di TPG. Potensi kehilangan dapat muncul di beberapa titik, misalnya getah yang masih tertinggal di bidang sadap, tercecer saat pengumpulan, atau mengalami masalah saat pengangkutan. Karena itu, ketelitian di setiap tahap sangat penting,” ujarnya.
Secara sederhana, perjalanan getah dapat dipandang sebagai sebuah rangkaian proses. Tahap pertama dimulai ketika resin keluar melalui luka sadap, kemudian mengalir menuju batok atau wadah penampungan.
Pada tahap tersebut, posisi wadah menjadi penting. Apabila aliran getah tidak masuk dengan baik, sebagian hasil dapat menempel pada batang atau mengeras di sekitar saluran. Getah yang telah mengeras juga perlu dikumpulkan dengan cara yang tepat agar tidak menjadi bagian hasil yang terlewat.
Tahap berikutnya adalah pengumpulan. Penyadap mengambil getah dari masing-masing pohon dan mengumpulkannya dalam wadah untuk dibawa keluar dari lokasi sadapan. Kondisi wadah dan cara membawa hasil perlu diperhatikan agar getah tidak tercecer maupun tertinggal.
Getah juga dapat mengalami perubahan apabila terlalu lama berada di lingkungan terbuka. Paparan udara dan kondisi lingkungan dapat memengaruhi sifat fisiknya. Air dan pengotor juga perlu dihindari agar kondisi hasil tetap terjaga selama proses penanganan.
Setelah keluar dari kawasan hutan, perjalanan getah berlanjut menuju Tempat Pengumpulan Getah (TPG). Di lokasi tersebut, hasil dari penyadap diterima, diperiksa, dan ditimbang. TPG menjadi salah satu titik penting dalam pengawasan mutu sekaligus pencatatan hasil produksi.
Hal tersebut terlihat saat pengecekan lokasi sadapan penyadap Nasmidi di Resort Pemangkuan Hutan (RPH) Picung. Saat dilakukan pengecekan, Nasmidi sedang melaksanakan ludang di petak 5F. Untuk periode tersebut, ia merencanakan hasil sebanyak dua fiber.
Penyadap Nasmidi mengatakan bahwa proses ludang perlu dilakukan dengan memperhatikan kondisi hasil yang dikumpulkan dari lapangan. Menurutnya, hasil dari pohon perlu dikumpulkan dengan baik agar tidak banyak yang tertinggal maupun tercecer.
“Yang kami perhatikan bukan hanya banyaknya getah. Hasil dari pohon harus dikumpulkan dengan baik supaya tidak banyak yang tertinggal atau tercecer. Periode ini rencananya dua fiber,” ujar Nasmidi.
Potensi susut juga dapat muncul ketika getah dipindahkan dari satu wadah ke wadah lainnya. Penanganan yang kurang hati-hati dapat menyebabkan sebagian getah menempel pada wadah atau tercecer. Karena itu, setiap tahapan perjalanan getah membutuhkan ketelitian meskipun prosesnya terlihat sederhana.
Bagi masyarakat awam, perbedaan antara hasil yang diperoleh dari pohon dan hasil yang tercatat di timbangan mungkin terlihat sebagai selisih biasa. Namun, selisih tersebut dapat menjadi bahan evaluasi untuk melihat bagian proses yang masih perlu diperbaiki.
Meningkatkan produksi bukan hanya tentang membuat pohon menghasilkan lebih banyak getah. Menjaga hasil yang telah diperoleh agar tidak hilang selama proses pengumpulan, pemindahan, dan pengangkutan juga menjadi bagian penting dari upaya meningkatkan produktivitas.
Kepala RPH Picung Zaeni Saefuloh menambahkan bahwa Perhutani terus mendorong pengecekan di tingkat tapak untuk melihat proses penyadapan secara langsung. Mulai dari posisi batok, kondisi bidang sadap, cara pengumpulan, hingga kesiapan hasil sebelum dibawa ke TPG, setiap tahap perlu mendapat perhatian.
Dengan demikian, perjalanan getah tidak berhenti ketika resin menetes ke dalam batok. Masih terdapat rangkaian proses hingga getah berada di atas timbangan dan tercatat sebagai hasil produksi.
Melalui pesan “Melangkah Bersama Merawat Hutan”, Perhutani mengajak masyarakat memahami bahwa setiap hasil hutan perlu dikelola dengan teliti. Menjaga setiap tetes getah agar tidak hilang mungkin terlihat sederhana, tetapi apabila dilakukan pada ribuan pohon dan secara konsisten setiap periode, ketelitian tersebut dapat memberikan dampak nyata terhadap produktivitas. (Byt/Mei)
Editor: Baim
Copyright ©️ 2026,
















Leave a Reply