KENDAL (13/07/2026) | Perum Perhutani Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Kendal secara berkala menyelenggarakan pembinaan teknis dan penyegaran (refreshing) mengenai teknik penebangan serta penatausahaan hasil hutan. Kegiatan ini bertujuan mengoptimalkan mutu produksi kayu, memastikan tertib administrasi, serta menerapkan prinsip pengelolaan hutan yang lestari dan berkelanjutan. Pembinaan dilaksanakan di Gedung Serbaguna Kantor Perhutani KPH Kendal pada Jumat (10/07).
Melalui kegiatan tersebut, Perhutani berharap pelaksanaan tebangan di wilayah KPH Kendal dapat berjalan sesuai ketentuan, menghasilkan kayu berkualitas, serta memberikan manfaat bagi perusahaan maupun masyarakat sekitar hutan. Materi pembinaan difokuskan pada aspek teknis dan administrasi, meliputi pembagian batang (bucking policy), penerapan Penatausahaan Hasil Hutan (PUHH), serta tata cara penanganan dan pengangkutan kayu hasil tebangan guna memaksimalkan potensi kayu panjang dan meningkatkan nilai ekonominya.
Kegiatan ini dihadiri Administratur/Kepala KPH Kendal, Muhadi, Kepala Seksi Produksi dan Ekowisata, Kepala Seksi Perencanaan Sumber Daya Hutan dan Pengembangan Bisnis, Kepala Sub Seksi Produksi, Penguji Tingkat I, Kepala Urusan Pelaporan dan Kesisteman, serta diikuti oleh 30 mandor tebang di wilayah KPH Kendal.
Administratur/Kepala KPH Kendal, Muhadi, menjelaskan bahwa teknik penebangan yang benar harus mengacu pada kebijakan pembagian batang (bucking policy) agar volume dan kualitas kayu komersial dapat dimaksimalkan. Selain itu, proses penebangan juga harus memenuhi ketentuan Standar Nasional Indonesia (SNI) sehingga ukuran panjang dan diameter batang kayu sesuai standar yang berlaku.
“Kami terus meningkatkan kompetensi petugas lapangan agar memahami teknik penebangan yang benar, penentuan pembagian batang yang tepat, serta penatausahaan hasil hutan sesuai ketentuan. Dengan demikian, kualitas kayu dapat terus ditingkatkan sekaligus mendukung tata kelola hutan yang profesional dan berkelanjutan,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa setiap kayu hasil tebangan telah dilengkapi barcode yang memuat informasi asal-usul kayu sehingga memudahkan proses lacak balak (traceability). Sistem administrasi yang terintegrasi ini juga mendukung penerapan tata kelola yang transparan sesuai regulasi Kementerian Kehutanan serta program Zero Fraud di lingkungan Perhutani.
Sementara itu, Penguji Tingkat I, Seger Supangat, menyampaikan bahwa pembinaan ini merupakan bagian dari upaya berkelanjutan untuk meningkatkan kualitas hasil tebangan. Menurutnya, pemahaman mengenai kelas batang kayu, teknik pemotongan yang tepat, serta penatausahaan sesuai prosedur akan berdampak langsung terhadap peningkatan mutu dan nilai jual kayu.
Di kesempatan yang sama, Kepala Seksi Perencanaan Sumber Daya Hutan dan Pengembangan Bisnis, Mita, menegaskan bahwa Perhutani juga terus memperkuat penerapan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) dalam setiap kegiatan penebangan. Seluruh kru tebangan diwajibkan menggunakan Alat Pelindung Diri (APD) sesuai standar, seperti helm, sepatu bot, rompi reflektif, kacamata pelindung, sarung tangan, dan pelindung telinga. Selain itu, pengawasan rutin dilakukan pada kegiatan berisiko tinggi, termasuk penebangan, bongkar muat kayu di Tempat Penimbunan Kayu (TPK), serta pengoperasian alat berat, guna mewujudkan target Zero Accident.
Sementara itu, Ketua LMDH Wana Lestari, Zaenudin, menyambut baik penyelenggaraan pembinaan teknis tersebut. Menurutnya, kegiatan ini memberikan tambahan pengetahuan yang sangat bermanfaat bagi para pelaku di lapangan, khususnya dalam mendukung pengelolaan hasil hutan yang lebih profesional.
“Kami mengapresiasi Perhutani KPH Kendal yang secara rutin memberikan pembinaan kepada para petugas lapangan. Melalui kegiatan ini, kami semakin memahami pentingnya teknik penebangan yang benar, penatausahaan hasil hutan, serta penerapan keselamatan kerja. Harapan kami, kompetensi petugas semakin meningkat sehingga pengelolaan hutan tetap lestari, produktivitas kayu terus meningkat, dan manfaatnya dapat dirasakan oleh masyarakat desa hutan,” ujar Zaenudin.
Melalui pembinaan ini, Perhutani berharap seluruh peserta dapat menerapkan ilmu yang diperoleh di lapangan, mulai dari pemasangan barcode, teknik penebangan yang benar, hingga penerapan bucking policy sesuai standar. Dengan demikian, kualitas hasil produksi, keselamatan kerja, serta tertib administrasi dapat terus ditingkatkan dalam mendukung pengelolaan hutan yang lestari dan berkelanjutan. (Kdl/Tmy)
Editor: Hening
Copyright © 2026
















Leave a Reply