Ulik Sejarah Sosial Hutan, Peneliti Leiden University Tinjau Jati Tua Tahun 1947 di Mantingan

MANTINGAN (20/05/2026) | Peneliti Leiden University Institute for History Belanda, Hendrik Eduard Theo Maijer, MA, melakukan kunjungan lapangan ke Hutan Teresan Petak 53A tahun tanam 1947 yang masuk wilayah Resort Pemangkuan Hutan (RPH) Pasedan, Bagian Kesatuan Pemangkuan Hutan (BKPH) Medang, KPH Mantingan, Rabu siang.

Administratur KPH Mantingan Rohasan berhalangan hadir dan diwakili Kepala Seksi Produksi dan Ekowisata Edy Pramono dalam mendampingi kunjungan tersebut.

Kunjungan tersebut merupakan bagian dari riset mengenai sejarah dan perkembangan Departement of Forest atau Boschwezen pada masa kolonial, khususnya pola penanaman dan pengelolaan hutan jati yang diterapkan sejak era tersebut.

Kepala Seksi Produksi dan Ekowisata KPH Mantingan Edy Pramono menjelaskan bahwa Petak 53A menjadi salah satu contoh tegakan jati tua yang masih terjaga dan menjadi bukti kesinambungan sistem silvikultur dari masa Boschwezen hingga Perhutani saat ini.

“Peninjauan langsung ke lapangan penting agar penelitian mendapatkan gambaran nyata tentang praktik pengelolaan hutan yang diwariskan sejak zaman kolonial,” ujarnya.

Sementara itu, Peneliti Leiden University Institute for History Belanda Hendrik Eduard Theo Maijer, MA, menyampaikan pandangannya usai melihat langsung kondisi tegakan jati di Teresan Petak 53A tahun tanam 1947 KPH Mantingan. Menurutnya, tegakan tersebut menunjukkan kualitas pengelolaan yang konsisten dari masa kolonial hingga sekarang.

“Struktur tegakan jati di Petak 53A sangat rapi dan sehat untuk usia tanam tahun 1947. Hal ini menunjukkan bahwa sistem silvikultur yang diterapkan sejak era Boschwezen masih relevan dan berhasil dijaga kesinambungannya,” ungkapnya.

Ia juga mencatat adanya pemanfaatan lahan di bawah tegakan jati oleh masyarakat untuk tanaman sela. Menurutnya, kondisi tersebut menunjukkan adanya interaksi antara pengelolaan hutan produksi dengan pemanfaatan lahan oleh masyarakat sekitar.

“Di bawah tegakan jati tua ini terlihat adanya aktivitas pertanian oleh masyarakat. Ini menunjukkan adanya interaksi antara pengelolaan hutan produksi dengan pemanfaatan lahan oleh warga sekitar, yang menarik untuk dikaji dari sisi sejarah sosial kehutanan,” tambahnya.

Catatan tersebut menjadi bagian dari riset mengenai perkembangan sistem pengelolaan hutan Departement of Forest atau Boschwezen pada masa kolonial di wilayah KPH Mantingan. Ia menambahkan, kondisi lapangan tersebut menjadi data penting dalam penelitiannya tentang sejarah pengelolaan hutan di Jawa pada masa kolonial. (Mntn/Ism)

Editor: Hening

Copyright © 2026

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *